<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003</id><updated>2011-11-09T23:07:03.591-08:00</updated><title type='text'>info SILATURAHIM</title><subtitle type='html'>Kliping Internet (0017)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-5213598599919077148</id><published>2009-12-06T15:11:00.001-08:00</published><updated>2009-12-06T15:13:13.308-08:00</updated><title type='text'>HIKMAH SILATURAHIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/Sxw6gw41ueI/AAAAAAAAAG8/lsu3XlYEYpM/s1600-h/tangan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 175px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/Sxw6gw41ueI/AAAAAAAAAG8/lsu3XlYEYpM/s320/tangan2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412265186746022370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;''Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya hendaklah ia senantiasa menjaga silaturahim.'' (HR Muslim, dari Anas bin Malik RA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang mampu menghindar dari masalah selama menjalani kehidupan di dunia. Bahkan, tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian kompleks. Rasul dan orang-orang beriman di masa lalu pun pernah hampir putus asa ketika menerima cobaan yang demikian berat dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 214 disebutkan, ''Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ''Bilakah datangnya pertolongan Allah?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada yang mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dan ada yang tidak? Kuncinya sebenarnya adalah silaturahim. Tentu, tak hanya sekadar mendatangi saudara, kerabat, atau kenalan dengan pertemuan yang penuh basa-basi. Namun, pertemuan itu untuk mengukuhkan persaudaraan dan untuk selalu berbagi pengalaman; bercerita, dan mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagi, kita menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Semangat hidup pun tumbuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak keliru bila dalam hadis di atas Rasulullah SAW sangat menganjurkan silaturahim, yang hikmahnya antara lain akan membuat kita jadi panjang umur. Kalau saja tidak rajin silaturahim, dengan sedikit masalah saja akan membuat kita lekas putus asa. Hidup tanpa harapan atau malah mengakhiri hidup secara tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan memperbanyak silaturahim, masalah apa pun yang menimpa, bisa kita hadapi dengan ketegaran. Kita bisa saling mengingatkan untuk tidak berputus asa, sebagaimana bunyi akhir ayat 214 surat Al-Baqarah, ''.... Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'' Wallahu a'lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://mualaf.com/hikmah-dan-kajian/jendela-keluarga/444-hikmah-silaturahim&lt;br /&gt;25 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar:&lt;br /&gt;http://sadulur.com/wp-content/uploads/2008/10/tangan2.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-5213598599919077148?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/5213598599919077148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/hikmah-silaturahim_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/5213598599919077148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/5213598599919077148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/hikmah-silaturahim_06.html' title='HIKMAH SILATURAHIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/Sxw6gw41ueI/AAAAAAAAAG8/lsu3XlYEYpM/s72-c/tangan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-1768911475508791978</id><published>2009-12-06T15:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T15:09:55.556-08:00</updated><title type='text'>SILATURAHIM KE ALAM BARZAKH</title><content type='html'>Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. “Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahua’lam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Hasan Husen Assagaf&lt;br /&gt;http://hasanalsaggaf.wordpress.com/2008/08/16/silaturahim-ke-alam-barzakh/&lt;br /&gt;16 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-1768911475508791978?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/1768911475508791978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/silaturahim-ke-alam-barzakh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/1768911475508791978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/1768911475508791978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/silaturahim-ke-alam-barzakh.html' title='SILATURAHIM KE ALAM BARZAKH'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-2031424007130655895</id><published>2009-12-06T14:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T15:10:26.021-08:00</updated><title type='text'>SILATURAHIM DENGAN JIN MUSLIM</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau bertanya mengenai hubungan manusia dengan jin. Sering saya mendenga kalimat Haram bersekutu dengan jin. Tetapi yang saya tahu jin itu ada yang muslim, dan kita sebagai orang islam wajib menjaga silaturohmi dengan sesama muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah kita tetap tidak boleh BERTEMAN dengan jin muslim? Karena menurut saya apapun bantuan yang kita dapatkan dari jin apapun bentuknya tetep sama saja seperti ketika kita mendapatkan bantuan dari sesama manusia cuma berbeda bentuknya. Kecuali kalo kita menyembah jin maupun kekuatannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong berikan penjelasan mengenai hal ini agar pemahaman saya bertambah baik. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus setyawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waalaikumussalam Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara Agus yang dimuliakan Allah swt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama bahwa berinteraksi atau bergaul dengan jin merupakan sesuatu yang mengandung bahaya besar, dan ia merupakan salah satu pintu keburukan dan kerusakan. Cukuplah dalam hal ini bahwa kemusyrikan tidaklah masuk kedalam diri manusia kecuali melalui jalan mereka (jin), sebagaimana diinformasikan oleh Rasulullah saw tentang pengajaran Allah kepada hamba-hamba-Nya,”Dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan lurus maka kemudian datanglah setan dan menyimpangkan mereka dari agama mereka. Dia mengharamkan bagi mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka serta memerintahkan mereka agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan kepadanya suatu penjelasan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun diantara golongan jin ada yang beriman dan muslim sebagaimana diantara mereka juga ada yang kafir dan fasiq namun ketidaknampakan mereka dihadapan manusia menjadikan ketidaktentraman manusia terhadap siapa pun diantara mereka (jin) dan menjadikan manusia khawatir dengan tipu daya mereka, khususnya saat tersebar luasnya kebodohan, bid’ah yang mengantarkan kepada kemusyrikan, dan pada umumnya menjatuhkan kebanyakan manusia kedalam apa-apa yang diharamkan kemudian tidaklah banyak bermanfaat bagi mereka kecuali sedikit sekali, firman Allah swt :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu fatwa ahli ilmu mengharamkan adanya saling memberikan dengan jin dan bergaul dengan mereka secara mutlak—baik terhadap jin yang mukmin maupun kafir diantara mereka—dan yang penting adalah tidak menggampangkan permasalahan ini serta sebagai tindakan preventif dari terbukanya pintu fitnah dan kecemasan, dan memelihara hati manusia untuk tetap terisi oleh fitrah imaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (14/18) : “Adapun meminta pertolongan kepada selain Allah swt, baik kepada manusia atau jin, apabila meminta pertolongan kepada jin maka hal ini terlarang, karena bisa mengakibatkan kemusyrikan dan kekufuran, sebagaimana firman Allah ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh al Albani didalam kitabnya “As Silsilah ash Shahihah” (pada hadits no. 2760) mengatakan,”Dan sisi ini, sebagian orang secara demonstratif mengobati manusia, yang umumnya mereka disebut dengan “Dokter Rohani” baik dengan cara-cara kuno berupa berhubungan dengan kawannya dari golongan jin—sebagaimana pernah dilakukan pada masa jahiliyah—atau dengan cara yang saat ini dikenal dengan menghadirkan arwah, dan sejensinya, menurutku, “Hipnotis”, maka sesungguhnya itu semua merupakan sarana yang tidak disyariatkan karena hal itu kembali kepada permintaan tolong kepada jin yang merupakan sebab kesesatan orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan didalam Al Qur’an al Karim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang yang melakukan permintaan bantuan kepada golongan jin beranggapan bahwa mereka meminta pertolongan kepada jin-jin yang sholeh diantara mereka maka ini adalah anggapan yang tidak betul, karena mereka tidaklah mungkin—umumnya—bercampur dan berinteraksi dengan jin-jin itu sehingga dapat menyingkap kesalehan atau kerusakan mereka. Kita mengetahui melalui pengalaman bahwa kebanyakan diantara manusia yang memiliki pertemanan yang kuat dengan jin-jin ternyata pada akhirnya anda mendapatkan kejelasan bahwa jin-jin itu bukanlah termasuk dari yang shaleh, firman Allah swt :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghabun : 14), ayat ini membicarakan tentang manusia yang nampak lantas bagaimana terhadap jin yang kata Allah swt :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf : 27). (islam-qa.com/erm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://swaramuslim.net/hikayat/more.php?id=6227_0_14_0_M&lt;br /&gt;16 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-2031424007130655895?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/2031424007130655895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/silaturahim-dengan-jin-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/2031424007130655895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/2031424007130655895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/silaturahim-dengan-jin-muslim.html' title='SILATURAHIM DENGAN JIN MUSLIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-8303653895270952459</id><published>2009-12-06T14:44:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T14:55:25.461-08:00</updated><title type='text'>PENTINGNYA SILATURAHIM</title><content type='html'>Allah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. al-Isra`: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam firman lain menyatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat ibn sabil…” (Q.S. an-Nisa`: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kedudukan berbuat baik pada kerabat dekat berada pada urutan setelah berbakti kepada orang tua. Al-Quran telah menentukannya secara berurutan dimulai dari yang paling tinggi sampai paling rendah dalam tahapan hubungan kemanusian. Setelah kerabat dekat, lalu meluas cakupannya sampai kepada setiap orang yang membutuhkannya dalam masyarakat. Ini sesuai dengan sifat manusia yang lebih cenderung berbuat baik kepada kerabat dekat. Ini juga sesuai dengan metode umum Islam dalam mengatur masyarakat muslim. Dimana tanggung jawab sosial dimulai dari lingkup keluarga, lalu meluas kepada kerabat dekat. Akhirnya mencakup semua kelompok manusia. Semuanya dilaksanakan dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. Sehingga, hidup ini terasa manis, indah, dan layak di nikmati oleh manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim termasuk metode dan asas Islami utama yang dibawa Islam ke dunia semenjak hari pertama Rasulullah memulai dakwah secara terbuka. Rasulullah telah menerangkan dasar-dasar Islam dan tanda-tandanya. Ternyata, silaturrahim termasuk tanda yang sangat jelas dalam sariat Islam. Sebagai bukti, adalah pembicaraan panjang Abu Sufyan r.a dengan Heraclius ketika ia bertanya kepadanya “apa yang diperintahkan oleh Nabi kalian?” Abu Sufyan menjawab: “Sembahlah Allah, jangan kalian menyekutukanNya dengan sesuatupun, tinggalkan apa yang dikatakan nenek monyangmu, menyuruh kami untuk melaksanakan shalat, jujur, meninggalkan perbuatan yang buruk, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda yang agung dari agama Islam; (yaitu) mentauhidkan Allah, mendirikan shalat, berpegang teguh pada sifat jujur, dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Karena itu, silaturrahim merupakan keistimewaan nyata yang ditampakkan kepada orang-orang yang untuk pertama kalinya bertanya tentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis yang menerangkan asas-asas dan prilaku Islami, Amr ibn `anbasah r.a berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya datang kepada Rasulullah Saw, di Mekkah pada awal keNabian. Aku berkata kepada beliau: “Siapa kamu?” beliau berkata: “Nabi.” saya bertanya: “Apa Nabi itu?” beliau bersabda: “saya diutus oleh Allah” aku bertanya lagi: “Dengan apa kamu diutus?” beliau bersabda: “Allah mengutusku dengan silaturrahim, menghancurkan berhala, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.” (H.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis di atas, jelas sekali bahwa Rasulullah Saw, mengedepankan silaturrahim dalam memberikan penjelasan singkat tentang dasar-dasar Islam. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa silaturrahim memiliki kedudukan penting dalam Islam, agama yang diturunkan sebagai rahmat untuk alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak nash-nash yang menganjurkan silaturrahim dan sekaligus mengancam orang yang memutuskannya. Diriwatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari. Bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku sebuah amal perbuatan yang bisa memasukkan aku kesurga?” Nabi bersabda: “Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, melaksanakan shalat, membayar zakat, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim disebutkan bersamaan dengan ibadah dan mentauhidkan Allah, pelaksanaan shalat, dan membayar zakat. Dengan demikian, silaturrahim termasuk amal shaleh yang menjamin seseorang masuk surga dan melindunginya dari api neraka. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat Allah tidak akan tercurahkan kepada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang suka memutuskan tali silaturrahim. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya Syu`abu al-Iman: “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan dicurahkan pada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Abu Hurairah r.a, tidak mau berdo`a disebuah tempat yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim. Karena akan menjadi penghalang turunnya rahmat dan dikabulkannya do`a. Abu Hurairah berkata di sebuah tempat pada malam jumat: “Saya dengan paksa menyuruh orang yang memutuskan tali silaturrahim untuk meninggalkan kami.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seorangpun berdiri sampai beliau mengatakan itu tiga kali. Setelah itu, ada seorang pemuda datang pada bibinya yang sudah dua tahun tidak pernah dikunjungi. Bibinya berkata kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai keponakanku, apa yang membawa kamu kesini?” Ia berkata: “ Saya mendengar Abu Hurairah r.a berkata begini-begini.” Bibinya berkata, “saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan anak adam itu diperlihatkan kepada Allah setiap malam jumat, dan amal perbuatan orang yang memutuskan tali silaturrahim tidak diterima oleh Allah.” (H.R. Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim memiliki perasaan halus dan senantisa mencari keridhaan Tuhan dan keselamatan diakhirat. Ia akan tergugah hatinya apabila mengetahui bahwa memutuskan silaturrahim akan menutupi turunnya rahmat, doa tidak dikabulkan, dan menggagalkan pahala sebuah pekerjaan. Sungguh suatu bencana besar bagi orang yang berdoa kemudian tidak dikabulkan. Beramal tetapi tidak diterima disisi Allah. Dan, mengharap rahmat Tuhan tapi rahmat itu menjauhinya. Karena itu tidak terbayang sama sekali bahwa suatu saat seorang muslim sejati akan memutuskan tali silaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://mediasilaturahim.com/?p=1015&lt;br /&gt;13 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-8303653895270952459?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/8303653895270952459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/pentingnya-silaturahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/8303653895270952459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/8303653895270952459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/12/pentingnya-silaturahim.html' title='PENTINGNYA SILATURAHIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-5224009493663338147</id><published>2009-03-20T06:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T06:32:03.058-07:00</updated><title type='text'>MENJAGA SILATURAHIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/ScOayRgwYoI/AAAAAAAAACA/-zqz9H5FALQ/s1600-h/aa-silaturahim002"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/ScOayRgwYoI/AAAAAAAAACA/-zqz9H5FALQ/s320/aa-silaturahim002" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315262173712245378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahmi terdiri atas dua suku kata, yakni Silah dan ar-Rahmi. Silah artinya hubungan atau menghubungkan sedangkan ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. Dengan demikian silaturahmi atau silaturahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Alquran secara spesifik Allah memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturahmi/ silaturahim; “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (An-Nisa:1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan” (Muttafaq 'Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang fakir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturahmi hanya karena pekerjaan dan jabatan. Silaturrahmi lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah berfirman : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturahim) ? (QS. Muhammad: 22). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, silaturahmi tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman. Allah swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mukmin yang lain, terutama gerakan-gerakan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mudah-mudahan dengan silaturahmi kita bisa saling memahami karakter perjuangan masing-masing, tampa harus menebar energi negatif di tenaga masyarakat, sehingga hubungan semakin erat dalam meresepon berbagai persoalan umat. Wallah a’lam bi shawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abd Haris Amrin&lt;br /&gt;http://www.pdmbontang.com/cetak.php?id=217&lt;br /&gt;26 Oktober 2006. Diunduh : 20 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar :&lt;br /&gt;http://exposedplanet.com/index.php?showimage=41&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-5224009493663338147?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/5224009493663338147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/menjaga-silaturahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/5224009493663338147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/5224009493663338147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/menjaga-silaturahim.html' title='MENJAGA SILATURAHIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_f8MgCHIijhI/ScOayRgwYoI/AAAAAAAAACA/-zqz9H5FALQ/s72-c/aa-silaturahim002' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-3101676367910513943</id><published>2009-03-20T06:11:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T06:15:30.167-07:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN SOFT POWER UMAT MELALUI SILATURAHIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/10/versi-bahasa-indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 400px;" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/10/versi-bahasa-indonesia.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alloh Swt. Berfirman : “Dan bertaqwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliaharalah) hubungan silaturrahim.” (QS : An-Nisa’ :1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Alloh perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS : Ar-Ra’d : 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menjalin silaturrahim” (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahhmi merupakan kata yang sangat popular namun sering terabaikan dalam aktualisasi. Dia merupakan gabungan dari dua kata, silah dan rahim. Silah artinya hubungan, sedangkan rahim adalah peranakan. Menggambarkan satu tempat yang sangat kokoh, dicipta Alloh khusus buat kaum wanita, tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Hal ini sekaligus menggambarkan bahwa kualitas silaturrahmi dan upaya menjaga kontinuitasnya harus seperti intimnya hubungan seorang ibu dengan anaknya (dalam tata bahasa Indonesia kata silaturrahim lebih dikenal dengan Silaturrahmi). Rahim juga sebagai symbol keturunan ini menunjukan bahwa dimanapun kita berada, termasuk di kantor, bermasyarakat kita harus menunjukan sikap bahwa kita adalah saudara, layaknya seperti saudara kandung. Dan silaturrahim bukan hanya dijadikan symbol ketika Ramadhan berakhir saja (baca : Idul Fitri), tetapi harus menjadi sebuah soft power ummat Islam, baik dalam aktifitas ekonomi, politik, social, budaya dan sebagainya. Soft power inilah sesungguhnya yang ditakutkan “musuh-musuh Islam”. Allohuakbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada petikan kalimat filosofi dari salah satu tulisan bersambung di Harian Pagi Batam Pos pada Hari Senin Tanggal 01 Agustus sampai dengan 03 Agustus 2005 oleh CEO Jawa Pos Group : Bapak Dahlan Iskan, kalimat tersebut adalah “Seribu kawan tidak cukup, satu musuh terlalu banyak”, luar biasa, ternyata kalau kita cermati dari petikan kalimat filosofi tersebut akan tergambar, bahwa budaya silaturrahmi begitu melekat pada sosio-kultur mereka, padahal mayoritas dari mereka tidak pernah mengenal Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim. Petikan kalimat tersebut adalah “oleh-oleh” perjalanan Bapak Dahlan Iskan selama  mendampingi Presiden SBY dalam Kunjungan Kerja ke negara bermata sipit “Tiongkok”. Rangakain perjalanan ke negara Tionghoa tersebut dalam upaya mempromosikan (marketing) untuk membujuk para investor negara tersebut yang dibungkus “silaturrahim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bapak Ipho Santosa (Marketer dan Penulis Buku Best Seller : Marketing With Love) memberikan Kuliah Umum tanggal 27 April 2005 di hadapan seluruh mahasiswa STIE Ibnu Sina Batam, beliau mengatakan “roh dari marketing adalah senang/suka bertemu orang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 14 abad lebih yang lalu Nabi akhir zaman Muhammad Saw bersabda melalui Abu Hurairah ra yang diriwayatkan Hadits Riwayat Bukhori Muslim : “Barang siapa ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menjalin silaturrahim”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benang merah yang dapat kita renungkan  dari serangkain ilustrasi kalimat di atas tentang bagaimana multilevel silaturrahmi yang diajarkan Rosululloh yang mulia dapat menjadi sebuah “jaringan ukhuwah” dan menjadi sebuah ujung tombak (marketing) dari kegiatan perekonomian yang berdampak pada muliflier efect, tidak saja pada level makro, yakni sebuah Negara yang notabene mempunyai cakupan yang lebih besar dan luas akan tetapi merambah pada level individu (mikro). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditulis Sdr. Dahlan Iskan dan apa yang dikatakan Sdr. Ipho Santosa, adalah hanya sebuah “pengulangan” kalimat yang disampaikan pada 14 abad yang lalu oleh seorang yang ummi Muhammad Rasulullah Saw. Dalam memandang dimensi rizki, Islam memandang tidak hanya pada wilayah “kuantitas keuangan” ataupun prosentase keberhasilan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi lebih dari itu, yaitu adanya keimanan, keberkahan, kedamaian dan lain sebagainya, artinya nilai silaturahmi yang tertanam akan menimbulkan apa yang disebut multiflier effect yang lebih luas, tidak saja materi tapi sfiritual, tidak saja dunia tapi akherat. Bukankah apa yang disabdakan pada mukadimah diatas oleh Nabi Muhammad Saw adalah serangkaian bukti bahwa beliau adalah seorang Rasul Alloh yang dipersiapkan menjadi rahmatan lil’alamin? Artinya, apakah anda pernah membaca/mendengar salah satu riwayat, bahwa beliau memang sebelumnya “belajar” ilmu marketing? Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditulis para marketer, baik markerter level internasional maupun nasional, intinya ada pada “silaturrahmi”. Akan tetapi sebagian Ummat Islam hari ini, yang paling lebih dulu mengetahui konsep tersebut, pada level aktualisasi jauh tertinggal dari “orang diluar Islam”. Buktinya kita sering kesulitan untuk menawarkan “produk pilihan Islam” karena orang Islam sendiri sudah terlanjur mendapatkan “silaturrahmi” dari “orang diluar Islam”. Kita lebih senang saling menjatuhkan,iri, dengki, memutuskan tali silaturrahmi dan ada kecenderungan “kalau ada uang anda disayang, tidak ada uang anda dibuang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…….akan dipanjangkan umurnya”. (HR. Bukhori dan Muslim). Kelanjutan dari kekuatan (straingth point) konsep silaturrahmi adalah : “Dipanjangkan umurnya”. Hadits tersebut jelas tidak bertentangan dengan hukum-hukum Alloh yang lain (adanya ketentuan batas kematian makhluq-Nya). Bagi hukum-hukum Allah tidak akan mengenal yang namanya terjadi “over leaving, tumpang tindih dlsb”. Karena Allah SWT adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Cerdas, kata-kata itu hanya berlaku pada hukum-hukum produk manusia.  Artinya, “panjang umur” yang dimaksud adalah dipandang dari dimensi kwalitas, boleh jadi rentang usia yang disediakan Allah adalah 63 Tahun, tetapi sesungguhnya rentang tersebut tidak pernah “mati”. 14 Abad lebih yang lalu Rasulullah Saw telah meninggalkan ummatnya,  tapi cahanya tetap hidup dan akan terus hidup, inilah amalan beliau yang senantiasa menjaga kwalitas hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang utuh, artinya semua petunjuk hidup ada pada Islam, tidak membeda-bedakan ini urusan agama, itu urusan ekonomi. Untuk itu bagi siapa saja yang ingin diluaskan rizki-Nya dan dipanjangkan umurnya hendaknya “silaturrahmi” menjadi soft power yang senantiasa menghiasi pola fikir dan ikhtiarnya. Semoga! Wallahhu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teten Nasrudin&lt;br /&gt;http://masjidrayabatam.net/content/view/125/83/&lt;br /&gt;20 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar :&lt;br /&gt;http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/10/versi-bahasa-indonesia.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-3101676367910513943?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/3101676367910513943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/membangun-soft-power-umat-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/3101676367910513943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/3101676367910513943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/membangun-soft-power-umat-melalui.html' title='MEMBANGUN SOFT POWER UMAT MELALUI SILATURAHIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-775257703288303787</id><published>2009-03-20T06:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T06:08:47.928-07:00</updated><title type='text'>SIAPA BILANG SILATURAHIM PERBANYAK REZEKI ? TERNYATA BENAR !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://shop.pustaka-islam.net/images/aqwam/rahasia-lapang-rezeki.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 300px;" src="http://shop.pustaka-islam.net/images/aqwam/rahasia-lapang-rezeki.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ustadz Syahril Mukhtar, alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir, orang yang banyak bersilaturahmi maka pintu rezekinya terbuka. Sebaliknya, orang yang kurang bersilaturahmi otomatis pintu rezekinya berkurang. ''Jadi, silaturahmi itu adalah salah satu inti dari pada agama kita baik ditinjau dari segi keagamaan hubungan satu sama lain ataupun dari segi ekonomi akan memberikan dampak yang sangat luas,'' tandas Ustadz Syahril kepada Republika Senin (16/10).&lt;br /&gt;Dalam pandangan Ustadz Syahril, silaturahmi yang paling penting dengan tetangga karena tetanggalah yang paling tahu persoalan yang tengah kita hadapi. ''Orang yang paling dulu tahu keadaan kita adalah tetangga, famili kita mungkin saja care tetapi kan mereka jauh. Orang yang paling tahu keadaan kita di rumah adalah tetangga. Maka akan sangat menyesal orang yang tidak bisa berbuat baik kepada tetangganya,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sambung Ustadz Syahril, Rasulullah SAW sangat mengecam umat Islam yang memutuskan tali silaturahmi. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun 'alaih), dengan tegas Rasulullah SAW bersabda: ''Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengakui, menyambung tali silaturahim yang sudah putus memang tidak gampang tapi itulah agama kita memberikan dan mengajarkan bagaimana kita berlapang dada. ''Bulan Ramadhan, merupakan bulan tarbiyah (pendidikan) yang banyak membinging dan menuntut kita untuk lebih bersikap sabar dan pemaaf. Kita diajar dari segi iman untuk sabar sehingga orang yang sabar dengan tetangga, dengan orang yang dihadapi dia akan lebih banyak mendapatkan rahmat Allah,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Prof Dr KH Said Agil Siraj menegaskan, menyambung tali silaturahmi merupakan perintah Allah yang harus dilakukan umat Islam. Agil Siraj kemudian mengutip ayat 21 dari surat Al-Ra'ad yang artinya: ''Dan orang-orang yang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (silaturahim) dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jadi menyambung tali silaturahmi itu sesuai dengan peringah Allah yang didasari rasa takut kepada Allah dan takut kepada hari hisab (perhitungan). Kenapa? Karena persoalan yang paling rumit adalah hubungan sesama manusia," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kita ingin meremehkan, kata dia, kalau dengan Allah, asal kita mau bertobat dan menyesal, maka Allah Maha Pengampun akan senang kalau dimintai maaf asal sebelum nafas berada di tenggorokan (sakaratul maut). "Tapi, kalau dengan sesama manusia, itu harus betul-betul clear,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi, kata dia, sangat penting untuk rekonsiliasi sesama warga bangsa. Namun ia menolak pemakaian istilah halal bihalal. "Benar, kata itu berasal dari bahasa Arab, tapi di sana tidak ada istilah itu. Yang ada ya silaturahim," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, silaturahim sangat penting sekali terutama di saat bangsa Indonesia sedang merasakan erosi sosial. ''Kita sekarang lagi berada dalam keadaan erosi infrastuktur sosial. Yang dibangun oleh nenek moyang kita, kiai-kiai kita jauh sebelum lahirnya Indonesia ini, koyak. Para kiai umat Islam sudah membangun masyarakat hidup bersama, yang muda menghormati yang tua, yang bodoh menghormati yang pintar. Yang pintar menyayomi yang bodoh, tatanan itu sudah terbangun. Sekarang kita sudah kehilangan kepercayaan, '' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas silaturahmi, tak sekadar saling mengunjungi, tapi lebih erat lagi. "Silaturahim menjadi silatul amal wal ikhtiar hubungan kerja. Itu bagus sekali untuk membangun teamwork yang solid," ujarnya. Tahapan selanjutnya menjadi silatul ilmi wal adab hubungan ilmu dan teknologi serta budaya. "Terakhir, silaturuhaniyah atau silaturahim ruh. Seperti saling mengirim doa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Pondok Pesantren Daarun-Najah Jakarta Selatan KH Shofwan Manaf MM sependapat dengan Prof Dr Said Agil Siraj. Menurut dia, untuk suksesnya hidup seorang manusia di muka bumi ini, ia tidak sekadar dituntut untuk melakukan hablum minallah (hubungan kepada Allah), tapi juga harus melakukan hablum minannas (hubungan sesama manusia). "Barangsiapa yang mau umurnya panjang maka harus melakukan silaturahmi. Barangsiapa yang mau masuk surga, sambunglah silaturahmi," ujarnya mengutip hadis.( dam )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.muallaf.com/index.php?view=article&amp;id=384:siapa-bilang-silaturahmi-perbanyak-rezeki--ternyata-benar-&amp;option=com_content&amp;Itemid=71&lt;br /&gt;01 November 2006. Diunduh 20 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar:&lt;br /&gt;http://shop.pustaka-islam.net/images/aqwam/rahasia-lapang-rezeki.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-775257703288303787?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/775257703288303787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/siapa-bilang-silaturahim-perbanyak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/775257703288303787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/775257703288303787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/siapa-bilang-silaturahim-perbanyak.html' title='SIAPA BILANG SILATURAHIM PERBANYAK REZEKI ? TERNYATA BENAR !'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-6284501822166717224</id><published>2009-03-19T06:57:00.001-07:00</published><updated>2009-03-19T07:46:00.507-07:00</updated><title type='text'>UKHUWAH DAN KERUKUNAN DALAM AL-QUR'AN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img264.imageshack.us/img264/7936/islam2ie9.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 460px; height: 298px;" src="http://img264.imageshack.us/img264/7936/islam2ie9.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Q.s. Al-Hujurat [49]: 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia beriman mempunyai dua dimensi hubungan yang harus selalu dipelihara dan dilaksanakan, yakni hubungan vertikal dengan Allah SwT melalui shalat dan ibadah-ibadah lainnya, dan hubungan horizontal dengan sesama manusia di masyarakat dalam bentuk perbuatan baik. Mukmin niscaya menjaga harmoni, keseimbangan, equilibrium antara intensitas hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Orientasi hubungan vertikal disimbolkan oleh pencarian keselamatan dan kebaikan hidup di akhirat, sedangkan hubungan horizontal diorientasikan pada perolehan kebaikan dan keselamatan hidup di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka selalu diliputi kehinaan dimana pun mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali (janji) dari Allah dan tali (janji) dari manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan selalu diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa sebab; soalnya, karena mereka durhaka dan melanggar batas (Q.s. Ali Imran [3]: 112). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi manusia dengan sesamanya harus didasari keyakinan bahwa, semua manusia adalah bersaudara, dan bahwa anggota masyarakat Muslim juga saling bersaudara. Ukhuwah mengandung arti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karenanya persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan, dan persamaan dalam sifat-sifat juga membuahkan persaudaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penunjang lahirnya persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan dalam cita dan rasa merupakan faktor yang sangat dominan yang menjadikan seorang saudara merasakan derita saudaranya. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman berada bersama jenisnya dan dorongan kebutuhan ekonomi bersama juga menjadi faktor penunjang rasa persaudaraan itu. Islam menganjurkan untuk mencari titik singgung dan titik temu, baik terhadap sesama Muslim, maupun terhadap non-Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab! Marilah menggunakan istilah yang sama antara kami dengan kamu: bahwa kita takkan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia; bahwa kita takkan saling mempertuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami orang-orang Muslim [tunduk bersujud pada kehendak Allah] (Q.s. Ali Imran [3]: 64). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dimensi Ukhuwah Manusia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an mengenalkan lima dimensi ukhuwah: (1) persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah), (2) persaudaraan nasab dan perkawinan/semenda (ukhuwah nasabiyah shihriyah), (3) persaudaraan suku dan bangsa (ukhuwah sya’biyah wathaniyah), (4) persaudaraan sesama pemeluk agama (ukhuwah diniyah), (5) persaudaraan seiman-seagama (ukhuwah imaniyah). &lt;br /&gt;Persaudaraan sesama manusia dilandasi oleh kesamaan dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SwT. &lt;br /&gt;Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembukaan kota Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah untuk adzan. Seseorang berkata, “Pantaskah budak hitam adzan di atas Ka’bah?” Sahut yang lain, “Jika Allah membenci dia, pasti Ia menggantinya”. Maka turunlah ayat itu. &lt;br /&gt;Seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari ayah dan ibu yang satu. Manusia diturunkan dari sepasang suami-istri. Persaudaraan manusia ditunjukkan oleh sebutan Bani Adam dalam Al-Qur’an sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai anak-anak Adam! Janganlah biarkan setan menggoda kamu seperti perbuatannya mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian supaya mereka memperlihatkan aurat. Ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat dan kamu tak dapat melihat mereka. Kami jadikan setan-setan sekutu orang-orang tak beriman (Q.s. Al-A’raf [7]: 27). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai anak-anak Adam! Jika rasul-rasul datang kepadamu dari kalangan kamu sendiri menyampaikan ayat-ayat-Ku, maka mereka yang bertakwa dan memperbaiki diri, tak perlu khawatir, tak perlu sedih (Q.s. Al-A’raf [7]: 35). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia satu dalam ikatan keluarga dan persaudaraan universal yang mendorong masing-masing berpartisipasi pada agenda-agenda kegiatan besar dan luas yang bermanfaat pada semua golongan manusia, antara lain penciptaan keadilan dan perikemanusiaan. &lt;br /&gt;Persaudaraan dalam keturunan dan perkawinan: persaudaraan nasab dan semenda memperoleh legitimasi dari Al-Qur’an dengan kokoh sebagai berikut. &lt;br /&gt;Dialah yang menciptakan manusia dari air; lalu dijadikan-Nya ia berkerabat dan bersanak semenda; dan Tuhanmu Mahakuasa (Q.s. Al-Furqan [25]: 54). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjadikan buat kamu pasangan-pasangan dari kodratmu sendiri dan Ia menjadikan dari pasangan-pasangan itu anak-anak, laki-laki dan perempuan dan cucu-cucu dan Ia memberikan kepadamu rezeki yang baik-baik. Adakah mereka masih percaya kepada yang batil dan tidak mensyukuri nikmat Allah? (Q.s. An-Nahl [16]: 72). &lt;br /&gt;Hai orang beriman! Jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, dijaga para malaikat yang keras dan tegas, tak pernah membangkang apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (Q.s. At-Tahrim [66]: 6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beriman niscaya memelihara bukan saja perilaku diri sendiri, tetapi juga perilaku keluarga, dan semua mereka yang dekat karena habungan darah maupun karena hubungan semenda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persaudaraan suku dan bangsa memiliki pijakan kuat dalam Al-Qur’an &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah SwT mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi persoalan alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus all at once. Seorang Muslim menjadi nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Dengan demikian ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka pada waktu yang sama ia juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan bangsanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim Indonesia harus berjuang menegakkan ukhuwah Ini. Jika tidak, Allah SWT niscaya membinasaan bangsa ini, sebagaimana Ia telah membinasakan bangsa lain yang lebih kuat lalu menggantinya dengan generasi yang lebih baik (QS Fathir/35:44). &lt;br /&gt;Persaudaraan sesama pemeluk agama memperoleh landasannya pada firman Allah, &lt;br /&gt;Katakanlah, “Hai orang-orang tak beriman! Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu pun tak akan menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tak akan menyembah apa yang kusembah. Agamamu untuk kamu dan agamaku untukku (QS Al-Kafirun/109:1-6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan keberadaan agama-agama lain tidak berarti pengakuan bahwa agama-agama lain itu benar, tetapi pengakuan hak setiap agama untuk eksis di dalam suatu hubungan sosial yang toleran, saling menghargai, saling membantu dan menghormati, dilandasi prinsip agree in disagreement, setuju dalam perbedaan; persaudaraan dalam perbedaan dan keragaman. Ukhuwah sesama pemeluk agama ini mendorong pemeluk agama untuk tidak sekadar ko-eksistensi, tetapi kooperasi: kerjasama dalam program amaliyah yang lebih praksis, sejak dari tingkat negara, sampai pada rakyat biasa (Nurcholish, 1998). &lt;br /&gt;Pluralitas bangsa, suku bangsa, agama dan golongan merupakan kaidah yang abadi yang berfungsi sebagai pendorong untuk saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan, berlomba menciptakan prestasi dan memberikan tuntunan bagi perjalanan bangsa-bangsa dalam menggapai kemajuan dan ketinggian (Muhammad Imarah, 1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persaudaraan seiman-seagama merupakan puncak persaudaraan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah supya kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujurat/49:10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaraan mukmin yang satu dengan yang lain merupakan ketetapan syariat. Persatuan, kesatuan dan hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil maupun besar akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka. Untuk menghindarkan keretakan hubungan tersebut, Mukmin niscaya menghindari sikap memperolok pihak atau kelompok lain; menyebut kekurangan pihak lain dengan tujuan menertawakan atau merendahkan; berprasangka, memata-matai dan menggunjing pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang beriman! Janganlah ada suatu golongan memperolok golongan yang lain; boleh jadi yang diperolok lebih baik daripada yang memperolok. Juga jangan ada perempuan menertawakan perempuan yang lain; boleh jadi yang diperolok lebih baik daripada yang memperolok. Janganlah kamu saling mencela dan memberi nama ejekan. Sungguh jahat nama yang buruk itu setelah kamu beriman. Barang siapa tidak bertobat, orang itulah yang zalim. Hai orang-orang beriman! Jauhilah prasangka sebanyak mungkin; karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah saling memata-matai, jangan saling menggunjing. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tidak, kamu akan merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Allah selalu menerima tobat, dan Maha Pengasih (QS Al-Hujurat/49:11-12). &lt;br /&gt;Nabi Isa AS pernah berkata, “Beruntunglah orang yang menjaga lidahnya, yang memiliki rumah sesuai dengan kebutuhannya, dan yang membersihkan dosa-dosanya.” Pada kesempatan lain Nabi Isa AS bepesan, “…Apa yang tidak kalian inginkan terjadi padamu, janganlah lakukan kepada orang lain. Dalam jalan inilah kalian akan betul-betul saleh di hadapan Tuhan.” (Tarif Khalidi, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlaksananya persaudaraan Muslim merupakan idaman umat Islam. Atas dasar itulah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah dalam ibadah haji perpisahan, &lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia! Camkanlah kata-kataku, karena aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih diberi lagi kesempatan untuk berdiri di depan kalian di tempat ini.” &lt;br /&gt;“Jiwa dan harta benda kalian adalah suci, dan haram di antara kalian, sebagaimana hari dan bulan ini adalah suci bagi kalian semua, hingga kalian menghadap Allah SWT. Dan ingatlah, kalian akan menghadap Allah, yang akan menuntut kalian atas perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia! Kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian. Perlakukanlah istri-istri kalian dengan cinta dan kasih sayang, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah.” &lt;br /&gt;“Kebangsawanan di masa lalu diletakkan di bawah kakiku. Orang Arab tidak lebih unggul dari bangsa non-Arab, dan bangsa non-Arab tidak lebih unggul atas bangsa Arab. Semua adalah anak Adam, dan Adam tercipta dari tanah.” &lt;br /&gt;“Wahai manusia! Dengar dan pahami kata-kataku! Ketahuilah, bahwasanya sesama muslim adalah saudara. Kalian semua diikat dalam satu persaudaraan. Harta seseorang tidak boleh menjadi milik orang lain kecuali diberikan dengan rela hati. Lindungilah diri kalian dari berbuat aniaya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Dan hendaklah yang hadir di sini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Siapa tahu, orang yang diberi tahu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya.” &lt;br /&gt;Ukhuwah Islamiyah berorientasi pada maslahat keagamaan bersama dengan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa (QS Al-Maidah/5:2); saling ingat-mengingatkan (QS Al-‘Ashr/103:3); musyawarah (QS Asy-Syura/42:38); sikap proaktif (QS Ali Imran/3:104, QS An-Nisa`/4:85); toleransi (QS Al-Hujurat/49:11), dan keteladanan (QS An-Nisa’/4:85). Normativitas ukhuwah imaniyah tidak menafikan historisitas perselisihan intern umat Mukmin. Maka setiap Mukmin bertanggung jawab mewujudkan persaudaraan seiman dan seagama tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teladan Ukhuwah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teladan ukhuwah terdapat dalam kehidupan kaum muslimin awal dari kalangan Muhajirin dan Anshar. &lt;br /&gt;Orang-orang yang sebelum mereka bertempat tinggal [di Madinah] dan sudah beriman, dengan penuh kasih sayang menyambut orang yang datang hijrah ke tempat mereka, dan dalam hati mereka tak terdapat keinginan atas segala yang diberikan, dan mereka lebih mengutamakan [Muhajirin] daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kemiskinan (kesulitan). Dan barang siapa yang terpelihara dari kebakhilan dirinya, mereka itulah orang-orang yang berhasil (QS Al-Hasyr/59:9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW., “Ya Rasulullah, saya lapar.” Rasulullah SAW meminta makanan dari istri-istrinya, akan tetapi tak ada makanan sama sekali. Beliau bersabda kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang bersedia memberi makan tamu pada malam ini?” Seorang Anshar menjawab, “Saya ya Rasulullah.” Ia pun pergi menemui istrinya dan berkata, “Suguhkan makanan pada tamu Rasulullah.” “Demi Allah, tak ada makanan kecuali sedikit untuk anak-anak.” Laki-laki itu berkata, “Tidurkan anak-anak, padamkan lampunya dan hidangkanlah makanan yang ada; biarlah kita menahan lapar pada malam ini.” Esok harinya Nabi SAW bersabda, “Allah kagum dan gembira karena perbuatan kalian.” Lalu turunlah ayat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang Muhajirin, ketika tiba di Madinah tidak punya apa-apa lagi. Maka saudaranya, Sa’ad bin Ar-rabi’ dari kalangan Anshar, menawarkan hartanya untuk dibagi dua. Abdurrahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Tidak berapa lama, dengan kecakapannya berdagang ia mencapai kekayaan kembali dan dapat memberikan mas-kawin kepada salah seorang wanita Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memperteguh Silaturahmi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulang punggung ukhuwah adalah silaturahmi. Menjalin dan memelihara hubungan keluarga merupakan suatu tuntunan akhlakul karimah dalam Islam yang amat penting. &lt;br /&gt;Hai umat manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan menciptakan darinya pasangannya; dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu selalu meminta dan jagalah hubungan keluarga. Sungguh, Allah selalu mengawasi kamu (QS An-Nisa‘/4:1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu menyebut silaturahmi bersama pesan takwa kepada Allah. Secara tersirat ayat itu menunjukkan bahwa silaturahmi merupakan sesuatu bentuk ketakwaan. Memutuskan silaturahmi melunturkan ketakwaan kepada Allah SWT. &lt;br /&gt;Silaturahmi juga merupakan salah satu ajaran akhlak Islam paling awal. Ali bin Anbasah berkata, “Saya menemui Nabi SAW di Mekah pada awal kenabiannya dan bertanya kepada beliau: ‘Siapa engkau?’ Beliau menjawab, ‘Nabi.’ Saya bertanya lagi, “Siapakah Nabi?’ Beliau menjawab, ‘Allah mengutusku.’ Saya bertanya sekali lagi, ‘Untuk apa Dia mengutusmu?’ Beliau menjawab, ‘Dia mengutusku untuk memegang teguh tali silaturahim, menghancurkan berhala dan mengajari manusia bahwa Allah adalah Esa dan tiada sesuatu apa pun yang menyamai-Nya.” (HR Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Abu Sufyan berbincang dengan Heraklius. Raja itu bertanya, “Apa yang diperintahkan oleh Nabimu untuk dikerjakan?” Abu Sufyan menjawab, “Beliau bersabda pada kami, ‘Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; hentikanlah agama nenek moyangmu.’ Beliau memerintahkan kami untuk berdoa, memberikan sedekah, mensucikan diri dan meneguhkan ikatan keluarga.” &lt;br /&gt;Abu Ayyub Al-Anshari meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku perihal perbuatan baik yang bisa mengantarkan aku masuk surga.” Nabi SAW bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan jangan sekutukan Dia; tegakkanlah shalat fardhu, tunaikan zakat dan berpegang teguhlah pada tali silaturahim.” &lt;br /&gt;Seorang Muslim yang berharap memperoleh nikmat Tuhan dan keselamatan di alam baka akan tergetar hatinya mendengar berita bahwa memutus tali silaturahim itu memutuskan rahmat Allah dan menjadikan doa tidak dikabulkan serta mempercepat hukuman di akhirat. Ibnu Umar sering kali berkata, “Barang siapa yang bertakwa kepada Tuhannya dan memegang teguh tali silaturahim akan merasa hidup lapang, kekayaannya bertambah dan keluarganya akan semakin mencintainya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim hendaknya pro-aktif dalam bersilaturahmi. Siapa yang berinisiatif untuk menjaga dan memperbaiki silaturahmi dialah yang lebih baik. Ukhuwah melahirkan kerukunan hidup dan kesetiakawanan sosial. Komunitas Muslim tidak akan diperhitungkan keberadaannya jika tidak memelihara dan membangun jaringan silaturahim.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Guru Besar Tafsir Al-Quran pada Fakultas Ushuluddin dan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Majalah Suara Muhammadiyah, 22 Oktober 2007&lt;br /&gt;http://www.pdmbontang.com/cetak.php?id=1093&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar :&lt;br /&gt;http://img264.imageshack.us/img264/7936/islam2ie9.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-6284501822166717224?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/6284501822166717224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/ukhuwah-dan-kerukunan-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/6284501822166717224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/6284501822166717224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/03/ukhuwah-dan-kerukunan-dalam-al-quran.html' title='UKHUWAH DAN KERUKUNAN DALAM AL-QUR&apos;AN'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-6504440278650031368</id><published>2009-02-21T19:21:00.000-08:00</published><updated>2009-03-19T07:52:42.144-07:00</updated><title type='text'>SILATURAHIM : MENYIRAM POHON PERSAUDARAAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thestar.com.my/archives/2008/5/19/nation/n_26kurma.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 370px; height: 247px;" src="http://thestar.com.my/archives/2008/5/19/nation/n_26kurma.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  line-height: 17px; font-family:Verdana;font-size:12px;"&gt;&lt;h4   style="  font-weight: bold; text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  font-weight: normal; font-family:Verdana;font-size:12px;"&gt;Persaudaraan kadang seperti tingkah dahan-dahan yang ditiup angin. Walau satu pohon, tak selamanya gerak dahan seiring sejalan. Adakalanya seirama, tapi tak jarang berbenturan. Tergantung mana yang lebih kuat: keserasian batang dahan atau tiupan angin yang tak beraturan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Indahnya persaudaraan. Sebuah anugerah Allah yang teramat mahal buat mereka yang terikat dalam keimanan. Segala kebaikan pun terlahir bersama persaudaraan. Ada tolong-menolong, terbentuknya jaringan usaha, bahkan kekuatan politik umat.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Namun, pernik-pernik lapangan kehidupan nyata kadang tak seindah idealita. Ada saja khilaf, salah paham, friksi, yang membuat jalan persaudaraan tidak semulus jalan tol. Ketidakharmonisan pun terjadi. Kebencian terhadap sesama saudara pun tak terhindarkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Muncullah kekakuan-kekakuan hubungan. Interaksi persaudaraan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan. Sebaliknya, ada kekecewaan dan kebencian. Suatu hal yang sulit ditemukan dalam tataran idealita persaudaraan Islam.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Lebih repot lagi ketika disharmoni itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan bukan lagi hubungan antar dua pihak, bahkan merembet. Penyebarannya bisa horisontal atau ke samping, bisa juga vertikal atau atas bawah. Para orang tua yang berseteru, anak cucu pun bisa ikut kebagian.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Rasulullah saw. pernah mengingatkan itu dalam sabdanya, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Waktu memang bisa menjadi alat efektif peluntur kekakuan itu. Saat gesekan menghangat, perjalanan waktulah yang berfungsi sebagai pendingin. Orang menjadi lupa dengan masalah yang pernah terjadi. Ada kesadaran baru. Dan kerinduan pun menindaklanjuti.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Kalau berhenti sampai di situ, bisa jadi, perdamaian cuma datang dari satu pihak. Karena belum tentu, waktu bisa menjadi solusi buat pihak lain. Kalau pun bisa, sulit memastikan bertemunya dua kesadaran dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Perlu ada cara lain agar kesadaran dan perdamaian bertemu dalam waktu yang sama. Dan silaturahim adalah salah satunya. Inilah cara yang paling ampuh agar kekakuan, ketidaksepahaman, kekecewaan menjadi cair. Suasana yang panas pun bisa berangsur dingin.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Dengan nasihat yang begitu sederhana, Rasulullah saw. mengajarkan para sahabat tentang keunggulan silaturahim. Beliau saw. bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (&lt;em&gt;Muttafaq ‘alaih&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Menarik memang tawaran Rasul tentang manfaat silaturahim: luasnya rezeki dan umur yang panjang. Dua hal tersebut merupakan simbol kenikmatan hidup yang begitu besar. Bumi menjadi begitu luas, damai, dan nyaman. Sehingga, kehidupan pun menjadi sangat berarti.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Masalahnya, tidak mudah menggerakkan hati untuk berkunjung ke orang yang pernah dibenci. Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati. Begitu berat beban batin. Berat. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan memposisikan diri seseorang sebagai pihak yang patut dikunjungi. Bukan yang mengunjungi. Kalau saja bukan karena rahmat Allah, seorang mukmin bisa lupa kalau &lt;em&gt;‘izzah&lt;/em&gt; bukan untuk sesama mukmin. Tapi, buat orang kafir.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Firman Allah swt. “&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir…&lt;/em&gt;.” (QS. 5: 54)&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Setidaknya, ada tiga persiapan yang mesti diambil agar silaturahim tidak terasa berat. Pertama, murnikan keinginan bersilaturahim hanya karena Allah. Ikatan hati yang terjalin antara dua mukmin adalah karena anugerah Allah. Ikatan inilah yang menembus beberapa hati yang berbeda warna menjadi satu cita dan rasa. Sebuah ikatan yang sangat mahal.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “&lt;em&gt;dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…&lt;/em&gt;.” (QS. Al-Anfal: 63)&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Jangan pernah selipkan maksud-maksud lain dalam silaturahim. Karena di situlah celah setan memunculkan kekecewaan. Ketika maksud itu tak tercapai, silaturahim cuma sekadar basa-basi. Silaturahim tinggallah silaturahim, tapi hawa permusuhan tetap ada.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Kedua, cintai saudara seiman sebagaimana mencintai diri sendiri. Inilah salah satu cara mengikis ego diri yang efektif. Ketika tekad ini terwujud, yang terpikir adalah bagaimana agar bisa memberi. Bukan meminta. Apalagi menuntut.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Akan muncul dalam nurani yang paling dalam bagaimana bisa memberi sesuatu kepada saudara seiman. Termasuk, memberi maaf. Meminta maaf memang sulit. Dan, akan lebih sulit lagi memberi maaf.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Hal inilah yang paling sulit dalam tingkat keimanan seseorang. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Ketiga, bayangkan kebaikan-kebaikan saudara yang akan dikunjungi, bukan sebaliknya. Kerap kebencian bisa menihilkan kebaikan orang lain. Timbangan diri menjadi tidak adil. Kebaikan yang bertahun-tahun bisa terhapus dengan kesalahan semenit.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Maha Benar Allah dalam firmanNya, “…&lt;em&gt;Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa&lt;/em&gt;….” (QS. 5: 8 )&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Tak ada yang pernah dirugikan dari silaturahim. Kecuali, tiupan angin ego yang selalu ingin dimanjakan. Karena, ulahnya tak lagi membuat tangkai-tangkai dahan berbenturan.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Sumber :&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;Muhammad Nuh&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2008/silaturahim-menyiram-pohon-persaudaraan/"&gt;http://www.dakwatuna.com/2008/silaturahim-menyiram-pohon-persaudaraan/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 9px; margin-left: 0px; "&gt;22 Feb 2009&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Gambar:&lt;br /&gt;http://thestar.com.my/archives/2008/5/19/nation/n_26kurma.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-6504440278650031368?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/6504440278650031368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/02/silaturahim-menyiram-pohon-persaudaraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/6504440278650031368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/6504440278650031368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/02/silaturahim-menyiram-pohon-persaudaraan.html' title='SILATURAHIM : MENYIRAM POHON PERSAUDARAAN'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399436156498668003.post-2969383156131765680</id><published>2009-02-21T18:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T18:42:35.333-08:00</updated><title type='text'>MAKNA SILATURAHIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm2.static.flickr.com/1088/1472107975_1f8a118c13_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1088/1472107975_1f8a118c13_m.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'times new roman';"&gt;&lt;div&gt;وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'times new roman';"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturahim termasuk inti dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami zberkata: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin, Bab Islam ‘Amr bin ‘Abasah, no. 1927)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Makna Silaturahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata وَصَلَ- يَصِلُ, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata: “الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman'; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman'; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c, dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman'; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman'; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;br /&gt;“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Al-Ustadz Abu ‘Awanah Jauhari, Lc&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=725"&gt;http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=725&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;22 Feb 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Sumber Gambar :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;a href="http://farm2.static.flickr.com/1088/1472107975_1f8a118c13_m.jpg"&gt;http://farm2.static.flickr.com/1088/1472107975_1f8a118c13_m.jpg&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399436156498668003-2969383156131765680?l=thepowerofsilaturahim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/feeds/2969383156131765680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/02/makna-silaturahim_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/2969383156131765680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399436156498668003/posts/default/2969383156131765680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thepowerofsilaturahim.blogspot.com/2009/02/makna-silaturahim_21.html' title='MAKNA SILATURAHIM'/><author><name>AKANG</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09460186791374625469</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm2.static.flickr.com/1088/1472107975_1f8a118c13_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
